Salam dari Biji Kopi Nusantara

Menikmati kopi di kedai kopi modern maupun tradisional sambil bercengkrama dengan sahabat atau pun rekan kerja mungkin sudah menjadi aktivitas yang sering dilakukan saat ini. Bahkan bisa dibilang kopi saat ini bukan hanya sebagai minuman akan tetapi sudah menjadi gaya hidup. Terlebih menjamurnya kedai-kedai kopi modern saat ini membuat kita sangat mudah dalam menemukan tempat ngopi bersama sahabat.

Bagi para pecinta kopi, sebagian besar pasti tahu persis apa saja perbedaan antara Kopi Robusta dan Arabika. Dengan sekelumit pandangan mata saja mereka akan tahu, mana Robusta dan mana Arabika. Hanya saja, bagi yang hanya mengaku penikmat kopi terutama anak-anak jaman now yang kesehariannya nongkrong di kedai kopi modern, mungkin tidak akan tahu banyak mengenai hal ini. Karena pada kesehariannya mereka biasanya hanya menikmati kopi dengan campuran susu, es dan bubble hitam serta tambahan jelly. Ya, meski tak semuanya seperti itu. Karena ada juga yang hobinya menikmati kopi dengan cara tradisional. Di tulisan sebelumnya saya menulis tentang cara ngopi unik ala nusantara. Kalian bisa baca artikel tersebut untuk sedikit down to earth kenal dengan kearifan lokal ngopi cara lama.

Kalau para penikmat kopi diberi pertanyaan, kopi apa yang biasa mereka nikmati, sebagian besar mungkin menjawab Arabika dan sisanya menjawab Robusta. Lantas apa bedanya? Jawaban mereka nyaris sama, yaitu kopi Arabika lebih soft cenderung ke asam, tidak seperti kopi robusta yang pahit. Selain itu kopi Abarabika juga lebih mahal dibanding Robusta. Memang tidak salah. Kedua hal tersebut merupakan sedikit perbedaan dari sekian banyak perbedaan yang dimiliki kedua kopi yang paling popular di dunia ini. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka tidak mengetahui mengapa kopi Arabika lebih mahal dan mengapa kopi Robusta lebih pahit.

Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Perkebunan kopi di Indonesia sendiri didominasi oleh Robusta sebesar 80%, Arabika 17% dan sebagian kecil sisanya adalah Liberika dan Excelsa. Menurut data Kementerian Pertanian, Sumatera Selatan menjadi penghasil kopi Robusta terbesar di Indonesia dengan hasil produksi mencapai 184.186 ton atau seperempat dari produksi kopi robusta nasional. Kemudian disusul oleh Lampung sebagai penghasil kopi Robusta terbesar kedua di Indonesian dengan hasil produksi 106.746 ton. Selain itu masih banyak daerah-daerah lain di Indonesia yang juga merupakan penghasil kopi robusta ternama antara lain Jawa Timur, Bengkulu dan NTT. Sementara daerah penghasil kopi Arabika yang sangat popular di Indonesia adalah Papua, tepatnya di Wamena dan lebih dikenal dengan Kopi Wamena.

Lantas apa saja perbedaan kopi Robusta dan Arabika selain harga dan rasa? Apa yang menyebabkan kopi Arabika lebih mahal? Dari manakah asal kedua kopi tersebut? Mari simak ulasan berikut ini.

Sejarah Kopi Arabika dan Robusta

Kopi Arabika merupakan spesies dari tanaman Coffea Arabica dan merupakan kopi tertua di dunia. Kopi ini merupakan kopi pertama yang pernah dikonsumsi dan pertama kali ditemukan pada tahun 1000 SM. Carl Linnaeus, ahli botani asal Swedia, menggolongkannya ke dalam keluarga Rubiaceae genus Coffea.

Jawaban seloroh dari banyak orang, mengatakan bahwa kopi Arabika berasal dari Arab. Tentu tidak seperti itu nyatanya ferguso. Nyaris semua literatur menyetujui bahwa tanaman kopi ini berasal dari hutan di pegunungan Abyssinia, sebuah tempat di Afrika yang meliputi daerah Ethiopia dan Eritrea. Lantas tanaman ini dibawa oleh pedagang Arab ke Yaman, menyebrangi Laut Merah dan Ethiopia. Proses penyebaran yang melewati banyak wilayah Arab inilah yang menyebabkan biji kopi ini diberi nama “Arabika”. Lalu kemudian, karena kepopulerannya Bangsa Eropa mulai menyebarkannya ke seluruh dunia.

Kopi jenis Arabika pada masa itu banyak di hasilkan oleh negara-negara di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Afrika. Hingga diakhir abad ke-17 bangsa-bangsa Eropa mulai memproduksi sendiri tanaman kopi di daerah jajahan mereka yang tersebar di Asia dan Amerika.

Sementara kopi Robusta pertama kali ditemukan oleh ahli Botani Belgia di Kongo tahun 1898. Kopi Robusta sendiri berasal dari Afrika Barat dan merupakan tanaman asli Afrika yang meliputi daerah Kongo, Sudan, Liberia dan Uganda.

Nama ilmiah dari Kopi Robusta adalah Coffea Canephora varietas Robusta. Tentu saja ini bukanlah nama spesies melainkan turunan dari jenis tanaman ini. Kata Robusta berasal dari kata “Robust” yang berarti rebus “Kuat” persis dengan aroma dan rasa dari kopi jenis ini.

Di Indonesia kopi mulai masuk pada tahun 1696 ketika Belanda membawa bibit kopi dari Malabar. Kopi dari Malabar ini lantas mulai dibudidayakan di salah satu perkebunan di Kedawung. Namun ternyata budidaya tersebut gagal.

Pada 1706 sample kopi yang dihasilkan dari Jawa dikirim ke Belanda untuk diteliti di kebun raya Amsterdam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kopi yang dihasilkan di Jawa memiliki kualitas yang sangat baik. Ketika itu kopi dari Jawa dikenal dengan sebutan A cup of Java untuk menggambarkan kepopuleran kopi dari tanah Jawa ini. Berbekal kepopuleran kopi dari Jawa, Belanda mulai melakukan budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Pada awal abad ke-20 Pemerintah Kolonial Belanda mengembangkan kopi Robusta secara besar-besaran di Indonesia. Ini dikarenakan penyakit karat daun atau Hemileia Vastatrix yang menyerang tanaman kopi arabika pada tahun 1878 dan menyebabkan sebagian besar perkebunan kopi di Indonesia rusak. Kemudian Belanda berusaha mengganti Arabika dengan Liberika yang sayangnya pada tahun 1890 tanaman kopi ini juga mengalami penyakit yang sama. Tahun 1907 Belanda mulai mendatangkan spesies lain dari kopi yakni Kopi Robusta. Budidaya Kopi robusta terbukti berhasil dan bertahan hingga kini.

Selain kopi Robusta beberapa varian lain dari Kopi Arabika di Indonesia juga sangat digemari para pecinta kopi, diantaranya Kopi Gayo dari Aceh, Kopi Mandailing dari Sumatera Utara, Kopi Kintamani dari Bali, Kopi Toraja dan tentu saja Kopi Wamena dari Papua. Pasca kemerdekaan Indonesia Tahun 1945 seluruh perkebunan kopi Belanda yang tersebar di seluruh pelosok negeri di Nasionalisasi. Sejak saat itu pula Belanda tidak lagi menjadi pemasok kopi dunia.

Perbedaan Ciri Fisik

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bagi para pecinta kopi hanya dengan sekelumit mata mereka pastinya akan dapat membedakakan manakah biji kopi robusta dan mana biji kopi arabika. Akan tetapi untuk orang awam atau yang hanya menikmati kopi instant, jika kedua biji kopi ini disandingkan pun mereka belum tentu mengetahui perbedaannya. Memang agak sedikit sulit, akan tetapi terdapat perbedaan mendasar diantara keduanya.

Pada kopi arabika, bentuk biji kopi cenderung lebih lonjong dan sedikit lebih besar dari kopi robusta dengan center cut lebih bergelombang seperti huruf “S”. Selain itu bentuk biji kopi juga lebih pipih.

Sementara untuk biji kopi robusta, bentuk biji kopi lebih bulat dan padat dengan tekstur yang lebih kasar. Dengan bentuknya yang bulat dan padat, center cut pada kopi robusta menjadi lebih lurus dibandingkan arabika dan ukuran kopi robusta lebih kecil dari pada kopi arabika.

Akan tetapi lain halnya dengan kopi robusta lampung. Biji kopi robusta lampung justru memiliki ukuran yang lebih besar dari pada biji kopi arabika. Karena ukurannya yang lebih besar inilah yang menyebabkan rasa dari kopi robusta lampung menjadi lebih unik dan lebih berbeda dari pada rasa kopi robusta lainnya.

Ketika buah kopi robusta masih muda, kulit buah berwarna hijau dan berubah menjadi merah ketika matang. Saat telah matang pun buah robusta akan tetap menempel dengan kuat pada tangkai tanaman, tak mudah rontok seperti hati mu buah kopi arabika.

Selain ciri fisik dari biji kopi, ketika kedua jenis biji kopi tersebut masing-masing sudah dihaluskan dan diseduh, maka akan terlihat pula perbedaannya, yaitu hasil seduhan pada kopi robusta akan terlihat lebih hitam dan pekat sedangkan pada seduhan kopi arabika terlihat lebih bening, tidak sepekat robusta dan lebih cenderung seperti seduhan teh.

Daerah Tumbuh Biji Kopi Arabika dan Robusta

Sesuai dengan tempat asalnya di hutan pegunungan, habitat asli untuk tanaman kopi arabika ini adalah pada pegunungan atau dataran tinggi. Lebih persisnya, tanaman ini dapat tumbuh pada 20° Lintang Selatan dan 20° Lintang Utara bumi. Akan tetapi pada daerah subtropis tanaman ini bisa juga tumbuh di dataran rendah.

Untuk daerah tropis seperti Indonesia, tanaman kopi arabika ini hanya bisa tumbuh dengan baik dan maksimal pada ketinggian 1000 – 2000 mdpl dengan ketinggian idealnya adalah pada 900-1700 mdpl. Hal ini disebabkan suhu udara sangat sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan kopi arabika.

Suhu ideal untuk pertumbuhan maksimal dari tanaman inilah pada suhu sejuk yaitu pada 150-240Celcius dengan curah hujan antara 1500-2000 mm per tahun. Tanaman kopi arabika membutuhkan 4-5 bulan periode kering dalam setahun dan akan berbunga pada akhir musim penghujan. Sayangnya, jika bunga yang baru tumbuh ini terkena hujan yang cukup deras, maka akan menyebabkan kegagalan berbuah.

Tanaman arabika memang mempunyai syarat suhu ideal untuk tumbuh subur. Dia tidak bisa tumbuh di daerah dengan suhu mendekati titik beku, tidak akan maksimal pula jika ditanam di daerah bersuhu hangat.

Apabila suhu terlalu hangat maka pertumbuhannya akan terlalu cepat dan bunga akan keluar terlalu awal yang dapat memperbesar resiko terserang penyakit karat daun. Dan bila suhu terlalu dingin, pertumbuhan akan lambat dan menyebabkan munculnya cabang sekunder dan tersier yang akan menggangu pertumbuhan buah.

Nah, sulit luar biasa ya untuk membudidayakan kopi arabika. Hal ini lah yang menjadi penyebab kopi arabika jauh lebih mahal dari pada kopi robusta.

Di Indonesia, daerah penghasil kopi arabika terbesar adalah di Papua, tepatnya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Perkebunan kopi arabika diantaranya terdapat di Pegunungan Arfak dan di Lembah Baliem. Ketinggian daerah Wamena ini adalah 1100 mdpl, bahkan dibeberapa wilayahnya mencapai ketinggan 2000 mpdl. Ini menjadikan Wamena berpotensi menjadi sentra kopi Arabika.

Untuk mencapai wilayah Wamena dan berkunjung ke kebun kopi bukanlah perkara mudah. Diperlukan satu jam perjalanan udara dari Bandara Sentani menggunakan pesawat jenis ATR ke Bandara Wamena. Setelah itu ditambah dengan dua jam perjalanan darat dari Bandara Wamena menggunakan mobil menuju kebun kopi. Jadi, bukan main-main thoo harga Kopi Wamena.

Bersebrangan dengan habitat kopi arabika, tanaman kopi robusta tumbuh pada dataran rendah yaitu dengan ketinggian daerah berada dibawah 900 mdpl dengan ketinggian ideal adalah 400 – 800 mdpl.

Lain lumbung lain pula belalangnya. Tapi kita tidak sedang membicarakan belalang tentu saja. Haha..

Jika suhu ideal untuk kopi arabika adalah suhu sejuk, maka suhu yang ideal untuk tanaman kopi robusta tumbuh maksimal adalah suhu hangat, yakni 240 – 300Celcius. Kopi robusta membutuhkan curah hujan lebih besar yaitu 2000-3000 mm per tahun dengan waktu kering antara 3 – 4 bulan saja. Tanaman ini dapat tumbuh dengan maksimal pada tanah yang memiliki tingkat keasaman 5-6,5 pH.

Tak sama halnya dengan kopi arabika yang mulai berbunga pada akhir musim penghujan, kopi robusta mulai berbunga pada awal musim kemarau. Tanaman ini mulai berbunga di tahun kedua sejak masa pembibitan.

Tanaman kopi robusta dapat dikatakan sebagai tanaman kopi yang strong karena tahan terhadap beban hidup karat daun sehingga tanaman robusta lebih mudah untuk dibudidaya dan dapat menghasilkan panen yang lebih banyak dari pada Kopi Arabika. Nah ini nih yang menyebabkan kopi robusta memiliki harga jual yang murah. Murah bukan murahan, tapi robusta memang mampu bertahan. Cakepp.. *maaf tidak sedang berpantun.

Tak banyak yang dapat dijelaskan untuk kopi robusta karena pada dasarnya tanaman ini merupakan tanaman yang mudah dirawat dan tidak memerlukan lokasi di dataran tinggi yang sulit dijangkau karena robusta dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah. Sebut saja di Liwa, kabupaten Lampung Barat, salah satu perkebunan kopi robusta di Lampung yang notabene-nya merupakan daerah penghasil kopi robusta terbesar kedua di Indonesia.

Daerah Liwa berada pada ketinggian 50 – 1000 mdpl yang di dominasi oleh pantai dan bukit-bukit kecil. Suhunya pun cukup hangat yaitu berada di kisaran 260-290Celcius. Jelas syarat-syarat untuk membudidayakan kopi Robusta sudah sangat terpenuhi di daerah ini.  Mata pencaharian utama penduduk lokal Lampung Barat pun memang sebagai petani kopi Robusta. Ada yang mau sama-sama mampir ke Lampung?

Cara sangrai Biji Kopi Robusta dan Arabika
Photo by Ardi Evans on Unsplash

Cita rasa, Aroma dan Kandungan

Nah, jika sudah bicara rasa dan aroma biasanya para suhu atau para pecinta kopi yang bisa dibilang expert pastilah tahu persis sis sis. Mungkin beberapa dari mereka tidak mengetahui persoalan asal usul kopi dan tempat budidaya kopi tersebut. Tapi soal rasa mereka tak bisa disepelekan. Bukan kaleng-kaleng.

Seperti namanya yang berarti “kuat”, kopi robusta memiliki rasa yang sangat cenderung ke pahit. Ketika diseduh, kopi ini terlihat lebih pekat dibanding kopi arabika. Robusta memiliki kadar kafein yang lebih besar 2 kali lipat dibanding arabika yaitu 1,8% - 4%. Sedangkan kandungan kafein pada arabika hanya sekitar 0,9%-1,4%. Rasa pada kopi arabika pun cenderung lebih asam dengan sedikit sensasi manis dan tentu saja rasanya lebih lembut dari pada robusta. Jika kalian merupakan peminum kopi pemula, kopi arabika merupakan kopi yang cocok untuk kalian coba.

Kandungan cafein yang besar dan kandungan asam clorogenic yang mencapai 7 – 10% pada robusta membuat tanaman robusta lebih tahan terhadap penyakit karena berfungsi sebagai pestisida alami untuk melindungi diri dari serangan hama dan penyakit. Kandungan asam clorogenic yang tinggi ini juga yang membuat rasa pahit pada robusta sangat kuat.

Sebenarnya kadar asam pada kopi robusta lebih tinggi hingga 2x lipat dari pada arabika. Akan tetapi rasa asam pada robusta tertutupi oleh rasa pahit yang sangat dominan tadi. Sehingga pada arabika, rasa asamnya seperti lebih “kentara” atau lebih terasa.

Kopi arabika memiliki kandungan lemak hingga 60% dan kandungan gulanya pun lebih besar hingga 2 kali lipat. Sehingga memang, jika dirasa kopi arabika memiliki sensasi rasa manis.

Sebelum disangrai, kopi arabika memiliki aroma seperti aroma segar buah bluberry, sedangkan pada robusta aromanya lebih seperti aroma kacang-kacangan. Ketika sesudah disangrai dan diseduh, Aroma pada kopi robusta cenderung netral dan kurang variasi. Tidak seperti kopi arabika yang mempunya banyak varian aroma seperti fruity, chocolate, caramel, orange dan aroma bunga.

Dari segi penyajian, kedua jenis kopi ini memiliki cara yang berbeda. Karena rasanya yang pahit, kopi robusta biasa digunakan sebagai basic atau campuran dasar untuk membuat aneka varian kopi seperti Coffee Latte, Cappuccino dan Macchiato. Untuk kopi arabika, karena rasanya yang light dan tidak terlalu pahit, biasanya kopi ini disajikan sebagai single coffee origin, atau disajikan dengan seduhan saja tanpa campuran agar penikmat kopi dapat merasakan rasa aslinya.

Kopi arabika sangat cocok dinikmati untuk para pemula. Sementara untuk penggemar kelas berat, mereka biasanya akan menikmati robusta single origin yang rasanya strong. Jika kalian harus begadang karena mengerjakan tugas atau bekerja, robusta tentunya lebih cocok dan dapat membuat kalian terjaga sepanjang malam karena kandungan kafeinnya yang besar. Eits! Tapi hati-hati yah untuk yang menderita maag dan asam lambung. Kopi jenis ini bisa membuat perut kalian perih dan asam lambung melesat naik!

Dari berbagai macam perbedaan di atas, mana yang menjadi favorite kalian ketika mampir di kedai kopi? Meskipun ada beberapa hal umum yang sudah diketahui bahkan oleh orang awam, tapi sebenarnya ada banyak perbedaan yang dimiliki diantara keduanya.

Pada akhirnya, pilihan kopi mana yang akan dinikmati akan kembali pada selera pribadi. Tapi jika sebelumnya rekan pecinta kopi hanya mencoba salah satu diantaranya, tak adalah salahnya jika mencoba yang lainnya sekedar untuk perbandingan, menghilangkan penasaran dan memperkaya khasanah kopi yang kalian punya. Indonesia Bhineka Tunggal Ika, dimanapun nongkrongnya tetap kopi minumannya. Salam biji kopi Nusantara!