Salam dari Biji Kopi Nusantara

Hai, Sobat Ngopi Nusantara. Ketika ditanyakan kepada kalian mengenai jenis kopi apa yang paling sering kalian nikmati, kemungkinan besar jawaban sobat ngopi adalah kopi arabika, robusta, atau bahkan kopi apa saja sing penting ono es lan susu (kopi apa aja yang penting ada es sama susu).

Tak salah memang, karena kopi-kopi itulah yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

Dua jenis kopi yang paling eksis di dunia memanglah Tuan Robusta dan Nyonya Arabika. Seperti yang telah  dibahas pada artikel sebelumnya tentang Perbedaan Kopi Robusta dan Arabika, kopi di Indonesia memang didominasi oleh Robusta hingga 80% dan Arabika 17%.

Akan tetapi yang perlu sobat ngopi sekalian ketahui bahwa terdapat satu jenis kopi lagi yang tak bisa kalian sepelekan begitu saja. Produksinya di Indonesia memang kecil, hanya sekitar 2,5 – 2,7% saja.

Namanya pun sangat jarang disebut jika dibandingkan dengan kedua rekannya yang sangat eksis. Jangan salah, meski jarang disebut-sebut, kopi jenis ini tetap memiliki penggemar fanatik.

Kopi Liberika namanya. Mungkin nama dari sepupu Tuan Robusta ini masih sangat asing di telinga sobat ngopi. Atau mungkin juga namanya sudah familiar akan tetapi rasa dari kopi ini masih sangat asing di lidah para penikmat kopi nusantara. Tak perlu berlama-lama, ada baiknya sobat ngopi langsung simak ulasan si Liberika, jenis kopi yang nyaris terlupa ini.

Sejarah Kopi Liberika

Nama ilmiah dari kopi Liberika adalah Coffea Liberica. Sebelumnya kopi ini digolongkan dalam kelompok kopi robusta dengan nama ilmiahnya Coffea Canevora varietas Liberica.

Akan tetapi karena morfolgi dan sifat-sifatnya yang agak berbeda dari kopi robusta maka para ilmuwan mengelompokkan kopi ini sebagai spesies sendiri yang berbeda dari Robusta.

Itulah mengapa beberapa orang mengatakan bahwa Liberika merupakan sepupu dari Tuan Robusta.

Kopi Liberika adalah jenis kopi yang juga berasal dari Afrika, tepatnya di Liberia, Afrika Barat. Meskipun berasal dari Liberia, sebenarnya tanaman kopi ini dapat dengan mudah ditemukan tumbuh secara liar dibeberapa daerah di Afrika seperti di Kamerun, Sudan, Kongo, Nigeria, Guinea dan Uganda.

Jenis kopi ini sendiri mulai masuk ke Indonesia pada abad ke -19, tepatnya pada tahun 1875, saat tanaman kopi arabika banyak terserang penyakit karat daun atau Hemileia Vastatrix. Sehingga pemerintah kolonial Belanda mulai mencari alternatif lain pengganti kopi arabika . Mereka lantas membudidayakan tanaman kopi liberika ini.

Tanaman liberika mulai masuk ke Jawa lalu bibitnya mulai dikembangkan di kebun Penelitian Bogor dengan tujuan untuk menggantikan jenis arabika yang rusak terserang Hemileia vastatrix.

Tahun 1885 para peneliti melakukan kawin silang Liberika terhadap Arabika sehingga menghasilkan jenis baru yang diharapkan akan lebih tahan terhadap penyakit karat daun.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Pada awal tahun 1900-an seluruh perkebunan Liberika di Indonesia rusak karena penyakit yang sama hingga akhirnya Liberika digantikan dengan Robusta yang pada saat itu baru saja masuk ke Indonesia dan langsung mencuri perhatian masyarakat karena aromanya serta perawatannya yang mudah.

Baca Juga :

Tempat dan Syarat Tumbuh Kopi Liberika

Biji Buah Kopi Liberika dari Pohonnya
Photo by dailycoffeenews

Lain robusta, lain pula arabika dan liberika. Masing-masing jenis kopi tentunya mempunyai keunggulan.

Keunggulan kopi Liberika antara lain yaitu mudah ditanam di dataran rendah serta lebih tahan terhadap kondisi cuaca, hama dan penyakit. Selain itu ia juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi tanah  yang kurang subur, bahkan mampu tumbuh pada tanah lempung atau tanah liat.

Beberapa syarat tumbuh yang baik bagi Liberika hampir sama dengan robusta. Liberika dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah dengan ketinggian 0 - 900 mdpl, akan tetapi masih tetap dapat tumbuh dengan baik pada ketinggan 1200 mdpl.

Salah satu unsur penting yang mendukung pertumbuhaannya adalah kadar pH tanah ideal berkisar 5 - 6,5 pH. Liberika pun membutuhkan suhu hangat yaitu pada suhu antara 270 - 300 Celcius dan curah hujan 1500 – 2500 mm per tahun dengan bulan kering selama 3 bulan.

Cara penyerbukan kopi Liberika juga tergolong sama dengan Robusta yakni dengan sistem penyerbukan silang. Sehingga kebanyakan benih yang terbentuk merupakan persarian dari tanaman yang lainnya.

Selain dari segi harganya yang lebih murah, kopi Liberika memiliki keunggulan lain seperti ukuran buah kopi yang lebih besar dan produktivitas yang lebih tinggi.

Ukuran pohon, daun, cabang dan buah liberika pun lebih besar dari kedua rekannya yang lain. Dia dapat berbuah sepanjang tahun dengan waktu panen sebulan sekali dan termasuk tanaman yang cukup tahan terhadap penyakit karat daun, setidaknya lebih tahan dibanding arabika.

Menurut Wikipedia, tinggi dari pohon Liberika bisa mencapai 9 meter. Akan tetapi banyak pohon liberika yang tingginya bisa mencapai 15 meter lho!

Kopi Liberika mulai berbuah pada usia 3,5 tahun sejak pembibitan dan jika dirawat dengan baik tanaman ini bisa  mencapai usia 30 tahun bahkan 50 tahun. Nah bisa jadi kopi yang kamu minum usianya pohonnya telah melebihi usia mu sendiri.

Taksonomi Kopi Liberika

Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Coffea
Spesies : Coffea Liberica

Rasa dan Aroma Liberika

Kopi Liberika memiliki aroma yang sangat menyengat seperti buah nangka. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu penyebab kopi ini sulit memperoleh pangsa pasar lokal.  

Salah satu varian dari kopi Liberika yang terkenal adalah Excelsa dengan nama ilmiah Coffea Liberica var. Dewefrei.  Ukuran buah kopi excelsa lebih kecil dari pada liberika dan kulit buahnya lebih tipis.

Lagi-lagi, karena merupakan sepupu dari tuan Robusta, kopi Liberika juga mempunyai rasa pahit yang kental dan aroma yang menyengat tajam dengan after taste sedikit asam dan ada sedikit sensasi rasa sayur. Kopi ini sering dijadikan campuran bagi kopi robusta untuk memberi tambahan aroma pada kopi.

Dikarenakan aromanya yang menyengat, masyarakat lokal lebih sering menyebut liberika dengan sebutan Kopi Nangka. Masyarakat di Jawa menyebutnya Kopi Nongko.

Selain rasa pahitnya yang kental, Kopi Liberika juga memiliki after taste rasa sayuran yang samar, seperti rasa kacang panjang mentah. Jika kalian pernah mencoba makanan Karedok, kalian pasti akan tahu rasa kopi liberika memiliki sedikit sensasi karedok diakhir.

Karena itu, jika teknik sangrai kopi liberika tidak tepat maka rasa kopi yang dihasilkan nantinya akan seperti meminum jus sayuran dengan rasa pahit yang kental.

Kadar kafein liberika berada di tengah kadar kafein yang dimiliki Robusta dan arabika. Tak sebesar kopi robusta yang kafeinnya bisa mencapai 4%, kafein milik Liberika hanya 1,1 – 1,3 % atau sedikit lebih besar dibanding Arabika.

Buah liberika memang lebih besar dari robusta dan arabika. Tak jarang dalam satu buah terdapat dua biji kopi. Biji kopinya pun 2 kali lebih besar. Beberapa bahkan ada yang hampir seukuran dengan biji nangka, which is ini juga yang menjadi salah satu penyebab kopi ini disebut Kopi Nangka.

Sayang seribu kali sayang, bobot keringnya hanya 10% dari bobot basah yang menyebabkan biaya panen liberika relatif lebih mahal dan para petani enggan membudidayakannya.

Jika biji robusta bulat dan arabika pipih, maka biji Liberika lebih asimetris. Beberapa menganalogikan bentuknya seperti Tear Drop dengan center cut yang juga lebih berkelok.

Negara Pengonsumsi Kopi Liberika

Salah satu negara pengonsumsi kopi liberika terbesar adalah Malaysia. Eksistansi Liberika di Malaysia lebih tinggi dari pada 2 jenis kopi popular lainnya.

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan kopi Liberika Malaysia sering mengimpor dari Indonesia khususnya dari perkebunan Liberika di Jambi. Padahal perkebunan kopi Liberika di Malaysia mencapai 80% dari total perkebunan kopi yang ada di sana.

Ada pula Filipina, pengonsumsi Liberika terbesar kedua setelah Malaysia. Perkebunan kopi Liberika di sana mencapai 25% dari total perkebunan kopi. Masyarakat lokal Filipina menyebut kopi Liberika dengan sebutan Kapeng Barako (Barako Coffee) dengan pusat perkebunannya terdapat di  daerah Batangas dan Cavite.

Libtukom, Kopi Liberika Khas Jambi

Jambi memang merupakan salah satu penghasil kopi Liberika terbesar di Indonesia. Salah satu provinsi di pulau Sumatera ini mampu memproduksi kopi Liberika hingga mencapai 270 ton biji kopi per tahunnya.

Selain itu Jambi, tepatnya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat bahkan mampu membuat varian kopi baru dari jenis kopi ini yaitu Kopi Liberika  Tungkal Komposit atau di kenal dengan sebutan Libtukom.

Libtukom ditanam di lahan gambut pada ketinggian 0 – 5 mdpl pada lahan perkebunan seluas 2.710 Ha. Suhu maksimal di dataran ini adalah 300 – 320 Celcius. Daerah Jambi memang merupakan daerah Tropis basah sehingga sangat ideal bagi tanaman ini.

Kopi Libtukom sebenarnya sudah mulai dibudidayakan di Tanjung Jabung Barat sejak tahun 1940-an. Akan tetapi Kopi Libtukom ini semula dianggap sebagai kopi Excelsa yang merupakan turunan dari Liberika dengan nama ilmiah Coffea Liberica var. Dewefrei.

Namun tahun 2012 peneliti melakukan perbandingan morfologi kelompok Liberika meliputi bentuk daun, bentuk ujung daun, pupus daun, ukuran buah sampai ketebalan kulit buah.

Dari sanalah Liberika varian ini diketahui bukan merupakan Excelsa (next time akan kami bahas). Sehingga melalui keputusan Menteri Pertanian tahun 2013, kopi Liberika Jambi ini diperkenalkan dengan nama Liberika Tungkal Komposit. Kata “Tungkal” berasa dari salah satu nama kabupaten penghasil kopi libtukom di Tanjung Jabung Barat yaitu Kuala Tungkal.

Kopi Libtukom ini sebagian besar di ekspor ke Malaysia yang notabene negara pengonsumsi Liberika terbesar, dengan harga dari petani Rp 33.000 -  Rp 40.000 per kilogramnya.

Lalu kopi ini juga di ekspor ke Singapura dan dikirim ke beberapa daerah di Jawa yang juga menyukai kopi kebanggan masyarakat Jambi ini. Lalu kemudian masyarakat di Jawa akhirnya turut membudidayakan tanaman ini.

Kebun Liberika di Lereng Gunung Prau

Selain Jambi, salah satu perkebnunan Liberika yang akhir-akhir ini cukup banyak di sorot adalah Lereng Gunung Prau, di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Kebun kopi ini sedang cukup banyak diperbincangkan karena memiliki aroma yang agak berbeda dengan kopi liberika pada umumnya yaitu aroma buah pisang. Buah liberika yang masih mentah dan baru dipetik dari pohon memilki rasa yang lebih manis ketimbang kedua kopi eksis lainnya, sayangnya agak sedikit berlendir.

Ketinggian pohon liberika di sana bervariasi dan memang lebih tinggi dari pohon robusta dan arabika, sekitar 6 – 11 meter. Dan ketika memetiknya pun petani harus menggunakan tangga yang terbuat dari bambu dan harus dipegangi di bagian bawahnya karena memang memang agak berbahaya. Petani setempat menyebut kopi ini dengan banyak nama seperti Abeo, Kopi Jowo dan Kopi Umbaran.

Pengolahan kopi liberika di daeah ini masih menggunakan natural process. Kopi yang baru dipetik kemudian dijemur di sebuah lahan terbuka di atas tanah dengan alas terpal di bawahnya.

Bentuk buah biji kopi liberika
Photo by dailycoffeenews

Karena ukurannya yang lebih besar, kopi ini membutuhkan waktu yang lebih lama agar bisa kering yaitu sekitar 1 – 2 minggu. Setelah buah kopi kering barulah buah-buah kopi tersebut dimasukin ke mesin semi-manual untuk mengupasnya. Yaa.. takmungkin rasanya mengupas ribuan biji kopi menggunakan tangan kosong kecuali tangan kamu bisa sebanyak gurita.

Biji kopi yang sudah dikupas lalu disangrai secara manual menggunakan tungku batu hingga berwarna hitam kecoklatan khas biji kopi. Bagian yang melakukan sangrai biji kopi biasanya mbah / nenek di sekitar perkebunan karena proses ini tidak memerlukan banyak tenaga. Tetapi beberapa petani sudah ada kokyang menggunakan mesin sangrai semi manual.

Dan setelah disangrai, kopi Liberika khas lereng Gunung Prau siap disajikan! Eh, belum. Biji kopi tidak mungkin kamu telan bulat-bulat. Ingat, kamu bukan Luwak!

Biji kopi harus dihaluskan lebih dulu dengan cara ditumbuk. Betchul, ditumbuk menggunakan lesung batu, alat tumbuk tradisional yang dibuat dari batu. Bagian menumbuk ini biasa dilakukan oleh petani pria dan wanita yang masih muda karena memang membutuhkan tenaga dan waktu.

Menumbuk kopi di bawah pohon-pohon kopi, ditemani angin sepoi dan secangkir kopi, para petani terlihat santuy mengerjakaannya.

Biasanya petani yang masih menggunakan proses natural adalah petani yang menjual kopinya ke area lokal atau penduduk sekitar sehingga memang tidak perlu menghasilkan banyak bubuk kopi. Tetapi bagi para petani yang menjual kopinya ke luar daerah biasanya mereka sudah menggunakan mesin yang semi manual.

Kedai Kopi Liberika di Yogyakarta

Jika kalian main ke Kendal, mampirlah ke salah satu kedai kopi yang lokasinya tak jauh dari bunderan kota kecamatan Sukorejo. Kedai “Kopi Merdeka” namanya. Pemilik kedai kopi, Pak De Yoga Yoga Basuki, mengatakan kedai kopinya merupakan Pusat Kopi Liberika Gunung Prau.

Foto Kedai Kopi Liberika di Yogyakarta
Photo by Smol.id

Sang pemilik tidak ingin kedai kopinya hanya menjadi tempat ngopi semata, melainkan juga sebagai rumah kopi dan edukasi. Sambil berbincang dan menikmati kopi seperti di rumah sendiri, Pak De tidak pelit membagi ilmu mengenai kopi-kopi yang berjejer rapi di rak kepada para pengunjung.

Bahkan beliau menyajikan kopi secara cuma-Cuma kepada pengunjung yang membeli biji-biji kopi dari kedainya agar pengunjung bisa menyicipi rasa dan aroma kopi jenis lain.

Mengenai harga, sobat ngopi tak perlu risau. Pak De Yoga menjual kopi-kopinya dengan harga yang jauh lebih murah. Alasannya mulia, beliau hanya ingin memerdekakan para pecinta kopi agar mereka tahu bahwa Indonesia tercinta adalah penghasil kopi yang berkualitas.

Bagi sobat ngopi yang sedang main ke Kendal, jangan lupa mampir ke kedai kopi Merdeka ini untuk membeli kopi-kopi Nusantara atau sekedar menikmati kopi sambil beredukasi.

Dengan besarnya potensi Kopi Liberika saat ini, sudah saatnya kopi ini diperkenalkan lebih luas ke masyarakat umum dan para petani kopi.

Dengan dibekali penyuluhan mengenai penanganan yang baik terutama pasca panen agar tidak menyebabkan kerugian bagi para petani,kopiliberika tentunya bisa berkembang dan menjadi komoditas ekspor unggulan dari Indonesia seperti halnya kopi Arabika dan Robusta.

Nah, Sobat Ngopi, apakah mulai tertarik untuk mencoba Kopi Liberika? Tak ada salahnya menyicipi keanekaragaman kopi dari Indonesia yang kaya raya ini.

Apalagi jika kalian membantu untuk mengenalkan lebih luas kopi-kopi Nusantara. Semakin sejahtera petani kopi Indonesia, semakin berkualitas kopi-kopi yang dihasilkan.

Akhir kata untuk Sobat Ngopi Nusantara, mari ngopi, mari beredukasi, mari merdekakan penikmat kopi. Salam, Biji Kopi Nusantara!