Salam dari Biji Kopi Nusantara

Hai, Sobat Ngopi Nusantara. Kemarin kita sudah berkenalan dengan Tuan Robusta dan Nyonya Arabica seputar Perbedaan Kopi Robusta dan Kopi Arabica, dan jenis kopi liberika.

Kali ini ada lagi sang primadona kopi yang terlelap dalam ketidakpopulerannya dan mungkin jarang sekali Sobat Ngopi dengar namanya.

Walau jarang sekali sobat ngopi mendengar namanya, kopi yang satu ini juga ada penggemar fanatiknya lho! Karena memiliki cita rasa yang khas dan cerita setiap tegup kopinya.

Kopi Excelsa namanya. Ukuran buah yang kecil dan daging buah tipis yang membuatnya banyak yang mengira Kopi Excelsa ini merupakan variasi dari Kopi liberika. Namun hingga kini, masih diperdebatkan asal usul dari kopi mungil yang satu ini.

Dan perlu Sobat Ngopi ketahui, kopi ini sangat berperan ketika terjadi serangan penyakit pada kopi Arabica sekitar abad ke-19 dan sebanyak 7% produksi kopi di dunia adalah kontribusi dari Excelsa.

Banyak orang yang masih belum terlalu akrab atau bahkan belum pernah sama sekali mencicipi rasa Kopi Excelsa. Namanya yang masih asing dan keterbatasan persediaan kopi ini membuat banyak orang yang belum merasakannya.

Kopi ini memang masih terbatas di indonesia apalagi wilayah yang memproduksi kopi ini juga belum banyak.

Sejarah Kopi Excelsa

Pada awal abad 19 disekitar aliran sungai Chari tidak jauh dari Danau Chad di Afrika Barat, August Chevalier seorang botanis dan ahli taxonomi asal Perancis lah menemukan kopi yang satu ini.

Saat awal ditemukannya, Kopi Excelsa disebut dengan spesies Coffea Excelsa, dan kadang-kadang disebut juga dengan Coffea Dewevrei, cukup keren bukan untuk nama sebuah kopi.

Dikemudian hari nama dari Coffea Dewevrei ini dikoreksi menjadi nama ilmiah Coffea liberica var. dewevrei. Hal ini dikarenakan kopi  ini tidak dianggap sebagai spesies tersendiri melainkan digolongkan sebagai varietas kopi liberika. Yah kasian dia gak dianggap sob.

Pemberi nama ilmiah itu adalah Jean Paul Antoine Lebrun. Dengan menggolongkan kopi excelsa sebagai salah stau varietas dari kopi liberika. Nah, Jean menganggap bahwa pemberian nama itu sudah valid secara tata penamaan ilmiah.

Ciri-ciri Kopi Excelsa

Jika sobat sebelumnya sudah pernah main ke kebun jenis kopi yang lain, Sobat Ngopi bisa menemukan perbedaannya dari daun yang lebar, di bagian permukaan daun berwarna hijau tua dan di bagian bawah daun berwarna hijau cerah. Mungkin karena yang atas lupa pakai Sun Block ya Sob jadi warnanya gosong.

Biasanya, tanaman ini dibudidayakan diatasa ketinggian 750 meter dari permukaan laut. Dan jika sudah berbunga, bunganya akan berwarna putih dan besar dengan 4 sampai 6 kelopak. Oh iya, biji dari Kopi Excelsa berwarna kuning cerah seperti Liberica dan ukurannya lebih kecil dari Robusta.

Untuk Kopi Excelsa ini dapat berbungan memerlukan waktu satu hingga dua bulan dengan curah hujan kurang dari 50 mm.

Biji Kopi Exelsa
Photo by Pemkab Bandung

Tanaman ini diketahui tahan terhadap penyakit karat daun, Hemileia vastratrix (HV). Dalam sekali panen Kopi Excelsa bisa menghasilkan 1,2 ton per hektar, tentu jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan Robusta, Arabica dan juga Liberika.

Batang dari Kopi Excelsa ini sangat kekar, mungkin keseringan ke gym, dan ketinggiannya ternyata bisa mencapai 10 meter. Kopi jenis Excelsa memang tidak terlalu populer didunia, namun sangat populer di Filipina.

Bobot buah Excelsa biasanya lebih berat dari Arabica tetapi lebih ringan dibandingkan dengan Liberica.  Tanaman ini bisa tumbuh di tanah gambut yang memiliki tingkat keasaman tinggi.

Kopi excelsa termasuk tanaman kopi yang cepat menghasilkan, dalam kurun 3,5 tahun buahnya sudah bisa dipanen.

Buah berry Kopi Excelsa berbentuk bulat mirip telur tapi kecil.

Bisa dikatakan, bijinya berukuran paling kecil dibandingkan rekan-rekannya Tampilannya buah berry kopinya bergerombol, begitu menarik dengan warna hijau saat mentah dan merah ketika telah ranum

Pohon kopi excelsa memiliki akar yang kuat dan pohonnya bisa tumbuh hingga 3 sampai 4 meter.

Bahkan ada pula yang tumbuh hingga lebih dari 8 meter. Karena pohonnya bisa tumbuh tinggi menjulang, kadang bisa merepotkan petani dalam perawatan dan proses panen.

Cabang utamanya bisa bertahan lama dan batangnya kekar. Tangkainya bisa memanjang secara horizontal dan bila ditanam berdekatan akan menghalangi cahaya matahari menyinari tanah.

Karakteristik tangkainya sering tumbuh melintang yang semburat bin awut-awutan. Karena rindangnya, akhirnya tak ada gulma yang bisa tumbuh di bawah pohon kopi excelsa.

Idealnya Kopi Excelsa ditanam di daerah beriklim tropis dengan curah hujan sedang. Pada tingkat curah hujan tinggi tanaman ini akan lebih mengembangkan kayunya dibanding buahnya. Jadi sangat cocok dengan iklim yang ada di Indonesia, walau sekarang terkadang cuaca juga tidak menentu.

Karakteristik Kopi Excelsa

Masih banyak yang masih belum terlalu akrab atau bahkan belum pernah sama sekali mencicipi rasa dari kopi excelsa ini. Apa Sobat Ngopi adalah salah satu yang belum pernah mencicipi kopi dari kembaran Liberica ini!

Kalo iya, Sobat Ngopi harus datang ke wilayah penghasil kopi untuk dapat merasakan sensasi rasa excelsa secara langsung.

Soal rasa jangan ditanya deh, karena bisa dibilang sangat unik. Aroma yang didapat dari kopi excelsa sangat khas dan mudah untuk membedakannya dari kopi Robusta atau Arabika.

Aroma yang menyengat tajam dan kuat dengan rasa pahit yang lebih kental. Biasanya, kopi excelsa dengan profil roasting dark akan menciptakan rasa kopi yang pahit

Perpaduan asam, manis, asin, dan sepat namun tak meninggalkan cita rasa gurihnya.

Kepekatan rasa dari kopi ini lebih tinggi di bandingkan dengan jenis kopi yang lainnya. Rasanya berada di antara Arabika yang cenderung asam dan Robusta yang identik dengan pahit.

Cita rasanya soft dan kadar kafeinnya di bawah kopi Robusta. Bila dicampur dengan kopi lain, excelsa akan membantu meningkatkan kedalaman dan kekuatan rasa.

Sensasi akhir rasa yang lama dan dalam, terutama di bagian tengah dan belakang lidah.

Bila diumpamakan dengan minuman lain, kopi excelsa adalah scotch yang punya segmentasi pasar tersendiri.

Sebagian besar orang tidak menyukai jenis minuman tersebut, tapi di sisi lain scotch yang bermutu tinggi bisa dicintai mati-matian oleh penggemar setianya.

Beberapa orang menyatakan kopi excelsa punya cita rasa yang misterius. Ini kopi Asam tapi kok enak ya? Rasa asam mirip buah-buahan terbukti saat dikonsumsi kadang memunculkan aroma  pisang rebus, dan tak jarang ada sedikit rasa mangga.

Bahkan ada pula yang menyatakan ada aroma khas seperti harum nangka sehingga sering juga Kopi Excelsa ini disebut Kopi Nangka.

Tempat dan Syarat Tumbuh Kopi Excelsa

Kopi Excelsa dapat ditanam di dataran rendah, daerah dengan sedikit air, dan suhu lembab.

Bahkan kopi ini bisa bertahan di daerah dengan cuaca panas dan bisa ditumbuhkan di lahan gambut. Sehingga kopi excelsa merupakan alternatif kopi yang bisa ditanam di daerah yang tidak bisa ditanami kopi robusta.

Selain itu, keunggulan kopi excelsa juga lebih tahan terhadap hama, dimana varietas ini memiliki ketahanan tinggi terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrim karena daya adaptasinya yang tinggi.

Berbeda dengan kopi robusta, kopi ini tidak begitu peka terhadap penyakit karat daun dan paling toleran terhadap tingkat ketinggian lahan.

Kebun Kopi Excelsa di Wonosalam

Wonosalam dikenal sebagai surga durian, penghasil salak, manggis, cengkih, kokoa dan kopi.

Kopi bahkan sudah dibudidayakan di Wonosalam sejak zaman pemerintah Hindia Belanda, yang sejak pendudukan mereka di bumi pertiwi sudah melihat potensi kopi di lereng Gunung Anjasmoro ini.

Secara garis besar, kopi dibagi menjadi empat golongan yaitu Robusta, Arabica, Liberika, dan Excelsa. Varietas kopi yang paling banyak tumbuh di Wonosalam adalah jenis Excelsa.

Penduduk Wonosalam sering menyebutnya dengan Kopi Asisa yang mungkin bentuk penyebutan warga setempat dari kata ‘Excelsa’ yang menyesuaikan dengan lidah Jawa.

Karena logat jawa itu pulalah, kadang sebutan kopi Excelsa juga menjelma menjadi Kopi Aziza, supaya terdengar agak keminggris, hingga dijuluki pula dengan Kopi Azezah, atau Kopi Sesah.

Kopi yang dihasilkan dari bumi Wonosalam mulanya bukan verietas excelsa. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda membangun Wonosalam sebagai sentra kopi untuk membibit lereng Anjasmoro ini demi menandingi Brazil sebagai penghasil kopi nomor satu dunia.

Banyak kebun kopi di setiap sudut di Wonosalam, bahkan hingga kini tak jarang setiap halaman rumah warga ditanami pohon kopi.

Meski dapat ditanam di dataran rendah, kopi ini tetap cocok dengan karakteristik Wonosalam yang merupakan daerah dataran tinggi namun dengan temperatur tidak terlalu dingin. Sehingga terbukti kopi ini tumbuh subur di bumi Wonosalam.

Varietas kopi excelsa memang mendominasi di Wonosalam, namun beberapa penduduk terkadang juga mengganti kopi di halamannya dengan kopi robusta.

Bahkan ada pula yang melakukan penyetekan dari pohon kopi excelsa dan robusta.

Penyetekan ini dilakukan penduduk karena karakteristik batang kopi excelsa yang kuat tapi menjulang, sehingga pemanfaatan bagian bawahnya sebagai ‘pondasi’ dan bagian atasnya digunakan untuk kopi jenis lain.

Daerah lain di Indonesia yang membudidayakan Kopi Excelsa adalah Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Penduduk di daerah tersebut sudah menanam kopi ini lebih dari lima puluh tahun yang lalu.

Perusahaan kopi terkemuka di Indonesia sudah menggunakan kopi excelsa sebagai bahan bakunya. Uniknya, naiknya popularitas kopi unik ini, makin banyak pula daerah  yang membudidayakan kopi excelsa seperti Jember, Blitar dan Bojonegoro.

Di pasaran, harga Kopi Excelsa lebih mahal dibandingkan dengan Kopi Robusta.

Kini jumlah tanaman yang masih produktif sudah susah ditemui. Penurunan produktivitas tanaman ini makin membuat varietas kopi ini makin langka, sehingga harganya makin tinggi.

Inilah yang menyebabkan penduduk masih mempertahankan varietas kopi yang jarang di Indonesia ini.

Di daerah Wonosalam, Jombang Jawa Timur, penanaman pohon kopi ini dilakukan secara organik sehingga dapat menghasilkan rasa yang berkualitas dengan aroma yang kuat dan harum.

Bahkan dalam hal panen sekalipun, tetap dilakukan secara teliti dan tidak sembarangan. Seperti tidak boleh memanen buah yang masih muda berwarna hijau, maupun terlalu tua yang berwarna hitam karena bijinya pasti sudah hilang.

Pemetikannya pun tidak boleh sampai ketangkai, harus buah saja agar tahun depan buahnya dapat tumbuh kembali.

Buat sobat yang sedang main di Jawa Timur, bisa mampir ke Wonosalam, Jombang untuk datang langsung ke kebun budidaya Kopi Excelsa ini.

Akhir kata untuk Sobat Ngopi Nusantara, mari ngopi, mari beredukasi, mari merdekakan penikmat kopi. Salam, Biji Kopi Nusantara!